Berita Terkait

Kamis, 22 Januari 2026

Menteri KKP: Ekonomi Biru Agenda Investasi Juga

Davos, 22 Januari 2026–Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menegaskan komitmen Indonesia dalam mengembangkan ekonomi biru yang berkelanjutan, inklusif, dan bernilai tambah tinggi melalui penyelenggaraan diskusi panel dengan judul “Harnessing the Impact of the Blue Economy” di Indonesia Pavilion, World Economic Forum (WEF) di Davos pada Kamis (22/01). Diskusi panel ini menjadi forum strategis untuk membahas transisi menuju ekonomi laut berkelanjutan, penguatan tata kelola kelautan, restorasi kesehatan laut, pemanfaatan teknologi kelautan, serta kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi tantangan pencemaran laut. Forum ini sekaligus menjadi momentum pengumuman Ocean Impact Summit (OIS) 2026 yang akan dilaksanakan di Bali, sebagai wadah global untuk mempercepat aksi nyata ekonomi biru.

Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Sakti Wahyu Trenggono, dalam sambutan pembuka menekankan bahwa ekonomi biru merupakan pilar strategis bagi ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, aksi iklim, serta kemakmuran jangka panjang. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menegaskan komitmennya terhadap ekonomi biru melalui pergeseran paradigma dari eksploitasi jangka pendek menuju pengelolaan jangka panjang. “Laut harus ditempatkan di pusat agenda global. Ekonomi biru adalah pilar strategis bagi ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, aksi iklim, dan kemakmuran jangka panjang. Bagi Indonesia, ekonomi biru bukan sekadar agenda lingkungan, tetapi juga agenda ekonomi dan investasi. Kesehatan laut berhubungan langsung dengan stabilitas ekonomi dan sosial,” ungkap Sakti.


Sementara itu, Peter Thompson, UN Secretary-General’s Special Envoy for the Ocean, menyampaikan  bahwa kondisi laut di Indonesia memiliki dampak yang signifikan bagi ekosistem laut di seluruh dunia, sehingga perlu perlindungan dan pengelolaan yang berkelanjutan. “Sebagai negara kepulauan terbesar dunia, apa yang terjadi di laut Indonesia berdampak pada lautan di seluruh planet, oleh karenanya perlindungan laut Indonesia juga menjadi tanggung jawab global. Setiap pertemuan kelautan harus mampu menyeimbangkan konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan. Ekonomi biru yang kuat hanya dapat terwujud jika kedua aspek ini berjalan beriringan,” jelas Peter.


Alfredo Giron, Head of Ocean World Economic Forum menilai bahwa menciptakan nilai tambah dari kegiatan ekonomi primer laut serta layanan ekosistem akan mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir dan pertumbuhan nasional. “Visi Indonesia dalam mengembangkan ekonomi biru dari nilai tambah kegiatan ekonomi primer hingga layanan ekosistem menunjukkan betapa laut bisa menjadi sumber pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” ungkap Alfredo.

Vincent Pieribone, Co-CEO & Chief Science Officer OceanX menyoroti potensi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, tidak hanya dari sisi konservasi laut tetapi juga sebagai destinasi ekonomi, investasi, dan pariwisata berbasis laut. “Pemerintahan yang kuat dan pengelolaan ekonomi yang baik membuat Indonesia menjadi salah satu tempat paling menarik di dunia untuk ekonomi biru. Melalui OceanX, kami bangga memperlihatkan keindahan dan kekayaan laut Indonesia kepada dunia,” ungkap Vincent.


Tony Wenas, Wakil Ketua Umum Bidang Investasi KADIN Indonesia menekankan pentingnya visi bersama dalam pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan. Keberhasilan ekonomi biru bergantung pada aksi kolaboratif lintas sektor. “Potensi Indonesia di perikanan dan kelautan besar, mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar. Kami memiliki visi yang sama tentang perikanan dan ekonomi biru. Kunci keberhasilannya adalah aksi kolaboratif, think big, start small, but act now,” kata Tony.


Inti diskusi panel ini menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan laut yang berdampak global, dengan mengedepankan pengelolaan berkelanjutan dan keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan sumber daya laut. Diskusi menyoroti pentingnya nilai tambah dari kegiatan ekonomi primer dan layanan ekosistem laut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan pertumbuhan nasional. Potensi ekonomi biru Indonesia tidak hanya sebagai pengelola konservasi, tetapi juga sebagai destinasi investasi dan pariwisata laut. Keberhasilan pembangunan ekonomi biru bergantung pada kolaborasi lintas sektor dengan visi besar, memulai langkah kecil, namun bertindak segera untuk mewujudkan masa depan laut yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Tentang WEF 2026 dan Indonesia Pavillion

World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 merupakan penyelenggaraan ke-56 dari forum ekonomi global tahunan yang mempertemukan para pemimpin dunia dari sektor pemerintahan, bisnis, akademisi, dan masyarakat sipil. Setiap tahunnya, WEF Davos dihadiri oleh lebih dari 2.500 peserta terpilih, termasuk kepala negara dan pemerintahan, pimpinan organisasi internasional, CEO perusahaan global terkemuka, pemimpin lembaga keuangan, serta tokoh pemikir dan inovator dunia.

Setiap tahunnya, Indonesia menyelenggarakan Indonesia Pavilion yang merupakan platform resmi Indonesia dalam rangkaian Annual Meeting World Economic Forum 2026 dan berfungsi sebagai pusat promosi investasi, dialog kebijakan, dan kolaborasi strategis dengan komunitas global. Tahun ini, pavilion mengangkat tema Indonesia Endless Horizons, dan hadir atas kerja sama Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Danantara Indonesia dan KADIN. Ini merupakan representasi terpadu Indonesia melalui sinergi antara pemerintah, pengelola aset negara, dunia usaha, dan mitra strategis nasional.

Tentang Mitra Pendukung

Pelaksanaan rangkaian kegiatan Indonesia Pavilion dan Indonesia Night pada World Economic Forum (WEF) 2026 didukung oleh sejumlah mitra perusahaan nasional yang terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk​; PT Bank Mandiri (Persero) Tbk; PT Barito Pacific Tbk, PT Astra International Tbk; PT Elang Mahkota Teknologi Tbk; PT Gajah Tunggal Tbk; Grab Indonesia; PT Indika Energy Tbk; PT Indofood Sukses Makmur Tbk; Lippo Group; PT Pertamina Persero; RGE Group; PT Saratoga Investama Sedaya; Sinar Mas Group; PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk; PT Telekomunikasi Selular; PT Triputra Agro Persada Tbk., yang bersama-sama berkontribusi dalam mendukung kelancaran dan keberhasilan penyelenggaraan kegiatan.


Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi:

Biro Protokol dan Hubungan Masyarakat

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM

Email: humas@bkpm.go.id


Powered by sagara 2022